Posts Tagged With: asam sunti

IDENTIFIKASI MIKROORGANISME PADA BUMBU DAPUR “ASAM SUNTI” ASAL BELIMBING WULUH-laporan akhir PKM-P


Evi saptriyawati



 

LAPORAN AKHIR

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PENELITIAN

 


IDENTIFIKASI MIKROORGANISME PADA BUMBU DAPUR

“ASAM SUNTI” ASAL BELIMBING WULUH


 

Oleh :

 

Evi Saptriyawati                 (G34063210/2006)

Muhammad Afnansyah      (G34080008/2008)

Binti Nur Azizah                (G34080078/2008

 

 

 

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2010

 


HALAMAN PENGESAHAN

1 Judul Kegiatan                      :  Identifikasi Mikroorganisme Pada Bumbu Dapur

“Asam Sunti” Asal Belimbing Wuluh

2 Bidang Kegiatan                   : (x) PKM-P              (  ) PKM-K

(  ) PKM-T              (  ) PKM-M

3 Bidang Ilmu                          : (  ) Kesehatan          (  ) Pertanian

(x) MIPA                 (  ) Teknologi dan Rekayasa

(  ) Sosial Ekonomi  (  ) Humaniora

(  ) Pendidikan

4. Ketua Pelaksana Kegiatan

Nama Lengkap                                           :   Evi Saptriyawati

NIM                                                           :   G34063210

Jurusan                                                       :   Biologi

Universitas/Institut/Politeknik                   :   Institut Pertanian Bogor

Alamat Rumah dan No Tel./HP                :   Wisma Intan No. 106 Rt/Rw: 03/06

Desa Setu Leutik Darmaga 16680 Bogor

Alamat email                                             :  sahara_kimi@yahoo.com

Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis       :   3orang

5. Dosen Pendamping

Nama Lengkap dan Gelar                         :   Ir.Agustin Widya Gunawan. M.S.

NIP                                                            :   19480821 197301 2 001

Alamat Rumah dan No Tel./HP                 :    Jl. Ampel Rt/Rw : 1/6 haurjaya

Bogor / 08176402348

6. Biaya Kegiatan Total

DIKTI                                                       :   Rp 7.000.000,00

7. Jangka Waktu Pelaksanaan                       :   4 bulan

 

Bogor, Mei 2010

Menyetujui

Ketua Jurusan/Program Studi                                Ketua Pelaksana Kegiatan

 

 

 

(Dr.Ir. Ence Darma Jaya Supena, M.S.)                            (Evi Saptriyawati)

NIP.1964100 198903 1 002                                         NIM. G34063210

 

 

 

 

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan                             DosenPendamping

 

 

 

(Prof. Dr.Ir. Yonny Koesmaryono, M.S.) ( Ir.Agustin Widya Gunawan, M.S.)

NIP. 19581228 198503 1 003                         NIP. 19480821 197301 2 001

 

ABSTRAK

Identifikasi Mikroorganisme Pada Bumbu Dapur “Asam Sunti” Asal Belimbing Wuluh. Asam sunti merupakan salah satu bumbu dapur yang dapat disimpan lebih dari satu tahun dan tahan terhadap serangan mikroorganisme yang dapat menurunkan kualitas asam sunti. Hal ini dikarenakan oleh kadar asam dan garam yang terkandung di dalamnya sangatlah tinggi. Kelompok mikroorganisme yang sanggup hidup pada kondisi pH asam dan kadar garam tinggi ialah mikroorganisme halofil. Mikroorganisme dominan yang hidup pada lingkungan ini ialah bakteri halofil moderat dan arkea (archaea) halofil ekstrem. Metode Enrichment agar sampel dan media NB (Nutrient Broth) dapat tersuspensi dengan baik menggunakan shaker. Penggoresan suspense menggunakan metode kuadran tidak menghasilkan koloni. Metode penempelan langsung yang dilakukan pada media NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dextrose Agar), terdapat koloni putih. Koloni berwarna putih yang tumbuh pada media NA dan PDA merupakan mikroorganisme bakteri yang akan dilakukan identifikasi lebih lanjut menggunakan pewarnaan gram positif dan gram negatife. Dari hasil penelitian yang dilakukan, dengan metode penempelan langsung, terdapat koloni putih yang tumbuh pada media NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dextrose Agar).  Metode gores kuadran yang dilakukan pada media NA dan PDA tidak terdapat koloni.

 

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan inayah-Nya penulis dapat menyelesaikan kegiatan Pekan Kreativitas Mahasisiwa Penelitian (PKM-P) dengan lancar dan dapat menyelesaikan laporan dengan baik. Laporan ini disusun sebagai tindak lanjut dari kegiatan PKM-P yang dilakukan di laboratorium Mikobiologi, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor dari bulan Januari sampai bulan Mei 2010.

Terimaksih penulis ucapkan kepada Ir. Agustin Widya Gunawan, M.S. selaku pembimbing yang telah mendampingi dan membimbing penulis selama melakukan kegiatan Pekan Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKM-P) serta kedua Orang Tua yang telah memberika restu dan doanya.

Semoga laporan ini dapat bermanfaat terutama bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

 

 

 

 

 

 

Bogor, Mei 2010

 

 

Evi Saptriyawati

Muhammad Afnansyah

Binti Nur Azizah

 

PENDAHULUAN

 

LATAR BELAKANG MASALAH

Aceh yang terletak  di ujung Pulau Sumatera memiliki kuliner yang unik. Keunikan ini dipengaruhi oleh seni mengolah makanan dari beberapa negara antara lain, India, Arab, Siam, bahkan Belanda. Salah satu bumbu non-rempah yang selalu digunakan pada masakan Aceh adalah asam sunti yang berasal dari belimbing wuluh.  Asam sunti  sudah banyak digunakan di Medan, Padang, dan beberapa daerah lainnya di Sumatera. Namun, masyarakat di pulau Jawa dan beberapa Provinsi lainnya di Indonesia banyak yang belum mengenal dan menggunakan asam sunti.

Asam sunti merupakan salah satu bumbu dapur yang dapat disimpan lebih dari satu tahun dan tahan terhadap serangan mikroorganisme yang dapat menurunkan kualitas asam sunti. Hal ini dikarenakan oleh kadar asam dan garam yang terkandung di dalamnya sangatlah tinggi. Penyinaran oleh matahari juga berpengaruh terhadap daya tahan asam sunti karena proses penghilangan air dengan penjemuran dapat menghambat tumbuhnya mikroorganisme. Selama proses penjemuran tetap ditambahkan garam agar suasana dan pH asam sunti terjaga keasamannya, sehingga mikroorganisme tidak dapat tumbuh.

Pada kenyataannya kami pernah melihat asam sunti ini dapat juga ditumbuhi oleh mikroorganisme, yaitu terdapatnya miselium dan lendir. Pertumbuhan mikroorganisme ini dapat tumbuh cepat terutama pada kondisi lingkungan yang kelembabannya tinggi. Namun belum ada satu literatur pun yang melaporkan jenis mikroorganisme yang tumbuh pada asam sunti. Oleh karena itu kami berusaha meneliti ragam mikroorganisme yang dapat hidup pada asam sunti.

 

PERUMUSAN MASALAH

Asam sunti merupakan bumbu masak yang berasal dari belimbing wuluh yang dijadikan sebagai pangan subsitusi bagi asam kandis dan asam lainnya. Pemanfaatannya belum menyeluruh di Nusantara. Kadar asam dan garam tinggi yang terkandung pada asam sunti seharusnya dapat menghambat proses pertumbuhan mikroorganisme, namun pada kenyataannya asam sunti dapat juga ditumbuhi oleh mikroorganisme.

TUJUAN PROGRAM

Program ini bertujuan mengisolasi ragam mikroorganisme yang dapat hidup pada lingkungan asam sunti dan mengidentifikasinya.

 

LUARAN YANG DIHARAPKAN

Luaran yang diharapkan dari penelitian ini ialah adanya penyediaan  referensi mengenai ragam mikroorganisme yang dapat tumbuh pada kondisi lingkungan asam sunti.

 

KEGUNAAN PROGRAM

Program penelitian ini merupakan ide awal untuk mengisolasi dan mengidentifikasi mikroorganisme yang terdapat pada asam sunti. Sehingga dapat memperkaya ragam mikroorganisme yang telah teridentifikasi. Hasil yang telah diperoleh dapat digunakan sebagai ide lanjut untuk meneliti karakteristik dan uji patogen dari mikroorganisme yang telah diidentifikasi.

 

TINJAUAN PUSTAKA

Asam sunti adalah sejenis bumbu dapur khas yang sering digunakan oleh masyarakat Aceh yang terbuat dari belimbing wuluh, karena dapat memberikan cita rasa, warna dan kekentalan pada masakan. Asam sunti dapat ditemukan di penjual bumbu dapur  pasar tradisional Aceh dan di supermarket bagian bumbu dapur Indonesia.

Proses pembuatan asam sunti dilakukan dengan penggaraman dan penjemuran dibawah sinar matahari. Penggaraman dan penjemuran dilakukan berulang sampai kering atau kandungan air dalam belimbing berkurang. Asam sunti yang dihasilkan berwarna coklat dan teksturnya kenyal. Asam sunti dapat disimpan lama sampai satu tahun bahkan lebih lama tanpa adanya perubahan warna dan tekstur. Hal ini dikarenakan kandungan asam dan garam yang cukup tinggi pada asam sunti dapat menghambat proses pembusukan oleh mikroorganisme.

Kelompok mikroorganisme yang sanggup hidup pada kondisi pH asam dan kadar garam tinggi ialah mikroorganisme halofil. Mikroorganisme dominan yang hidup pada lingkungan ini ialah bakteri halofil moderat dan arkea (archaea) halofil ekstrem. Menurut Kushner (1985) halofil moderat adalah kelompok mikroorganisme yang tumbuh optimum pada kadar NaCl 0,5-2,5 M. Bakteri halofil moderat memiliki banyak potensi, yaitu dalam fermentasi makanan, penghasil senyawa osmoprotektan, enzim hidrolitik, polimer, dan degradasi senyawa toksik (Ventosa et al. 1998).

Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroba. Beberapa kelompok mikroba sangat resisten terhadap perubahan  faktor lingkungan. Mikroba tersebut dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Faktor lingkungan meliputi faktor-faktor abiotik (fisika dan kimia), dan faktor biotik. Setiap mikroba memerlukan kandungan air bebas tertentu untuk hidupnya, biasanya diukur dengan parameter aw (water activity) atau kelembaban relatif. Mikroba umumnya dapat tumbuh pada aw 0,600-0,998. Bakteri umumnya memerlukan aw 0,900-0,999.

Mikroba yang osmotoleran dapat hidup pada aw terendah (0,60) misalnya khamir , Saccharomyces rouxiiAspergillus glaucus dan cendawan lain yang dapat tumbuh pada aw 0,80. Bakteri umumnya memerlukan aw lebih dari 0,98, tetapi bakteri halofil hanya memerlukan aw 0,75. Mikroba yang tahan kekeringan adalah yang dapat membentuk spora, konidia atau dapat membentuk kista.

Tekanan osmose sebenarnya sangat erat hubungannya dengan kandungan air. Apabila mikroba diletakkan pada larutan hipertonis, maka selnya akan mengalami plasmolisis, yaitu terkelupasnya membran sitoplasma dari dinding sel akibat mengerutnya sitoplasma. Apabila diletakkan pada larutan hipotonis, maka sel mikroba akan mengalami plasmoptisa, yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke dalam sel, sel membengkak dan akhirnya pecah. Contoh mikroba osmofil adalah beberapa jenis khamir. Khamir osmofil mampu tumbuh pada larutan gula   dengan konsentrasi lebih dari 65 % wt/wt (aw = 0,94). Contoh mikroba halofil adalah bakteri yang termasuk Archaebacterium, misalnya Halobacterium.

Bakteri yang tahan pada kadar garam tinggi, umumnya mempunyai kandungan KCl yang tinggi dalam selnya. Selain itu bakteri ini memerlukan konsentrasi Kalium yang tinggi untuk stabilitas ribosomnya.

 

 

METODE PENDEKATAN

Tahap I

Asam sunti diambil di dua pasar tradisional Aceh. Pada bulan Agustus dilakukan pengambilan sampel di dua pasar tersebut untuk diteliti di laboratorium Mikobiologi, Departemen Biologi IPB.

Tahap II

Asam sunti ditempelkan langsung pada dua media agar-agar cawan NA (Nutrient Broth) dan PDA (Potato Dextrose Agar) dengan pH media masing-masing 2 (dua). Asam sunti I ditempelkan pada cawan I media NA dan pada cawan I media PDA. Asam sunti II ditempelkan pada cawan II media NA dan cawan II media PDA. Setiap cawan NA dan PDA dibagi menjadi dua bagian. Bagian I menunjukkan ulangan satu dan bagian dua menunjukkan ulangan dua. Asam sunti diinkubasi pada suhu ruang 27°C selama 24 jam dan diamati.

Asam sunti dimurnikan pada media cawan NA menggunakan metode kuadran gores. Asam sunti diinkubasi selama 24, 48, dan 72 jam pada suhu ruang 27°C. Asam sunti diidentifikasi menggunakan mikroskop menggunakan metode pewarnaan gram positif dan gram negatif untuk setiap pengulangan masa inkubasi.

Tahap III

Proses pengayaan asam sunti pada media cair NB (Nutrient Broth) dengan pH 2 dan dilakukan pengocokan selama 2 hari.  Kemudian larutan hasil pengayaan digores pada media NA dan PDA menggunakan metode gores kuadran. Setiap perlakuan dilakukan dua kali pengulangan. Laruta NB diinkubasi pada suhu ruang 27° C selama 24 jam dan diamati. Larutan NB diamati menggunakan  mikroskop.

 

PELAKSANAAN PROGRAM

Tempat dan Waktu

Pengambilan sampel dilakukan pada dua pasar tradisional di Banda Aceh. Sedangkan penelitian akan dilakukan di laboratorium Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor dari bulan Januari sampai bulan Mei 2010

Jadwal Kegiatan Terprogram

Rencana Jadwal Pelaksanaan Program

No Kegiatan

Bulan

Januari Februari Maret April Mei
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Studi literatur                                        
2 Pengambilan Asam sunti                                        
3 Persiapan bahan dan alat                                        
4 Melakuka metode penempelan langsung                      

 

       

 

         
5 Melakukan metode pengayaan dan isolasi mikroorganisme                                        
6 Identifikasi mikroorganisme                                        
7 Pengolahan data dan penyusunan laporan                                        
8 Revisi, perbaikan, dan penyerahan laporan                                        

Instrument Pelaksanaan

Alat yang digunakan adalah autoklaf, cawan petri, gelas kimia, gelas ukur, pipet volumetrik, pipet tetes, ose, lampu spiritus, sentrifuse, mikroskop, kaca preparat, erlemeyer, alat pengocok, penangas air dan laminar air flow.

Bahan yang digunakan adalah asam sunti, bahan pembuat media PDA dan NA, air suling, alkohol 70% dan 95%, spiritus, korek api,kapas, aluminium foil, seal, larutan ungu kristal, larutan iodium Gram, safranin, dan nigrosin.

Rancangan dan Realisasi Biaya

No Jenis uji Bahan Alat Biaya

(Rp)

1 Pengambilan asam sunti Asam sunti Biaya pengambilan Rp     275.000,00
2 Bahan habis pakai Media - Rp  2.500.000,00
Aquadest, alkohol dan spritus - Rp     300.000,00
Kapas, seal, korek - Rp       50.000,00
3 Peralatan penunjang PKM - Cawan petri Rp     800.000,00
- Gelas kimia, gelas ukur, pipet volumetrik dan pipet tetes Rp     500.000,00
- Ose Rp        50.000,00
4 Administrasi Kertas A4 - Rp      150.000,00
5 Transportasi  dan Komunikasi - - Rp      450.000,00
Total Rp 5.075.000,00

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil penempelan langsung asam sunti pH 1,8 dan 2,2  pada media NA dengan pH 2, terdapat koloni yang diduga merupakan bakteri pada cawan I dan II. Pada media PDA hanya ditumbuhi koloni pada cawan II. Setelah dilakukan pengamatan di bawah mikroskop menggunakan pewarnaan gram positif dan negatif, ternyata tidak ada satu koloni pun yang teridentifikasi sebagai bakteri

Penggoresan suspensi asam sunti I dan asam sunti II menggunakan metode kuadran (Gambar 2.a), tidak terdapat koloni yang tumbuh pada media NA dan PDA dengan pH  2 (dua). Pengamatan larutan media NB (Gambar 2.b) hasil pengayaan menggunakan mikroskop juga tidak teridentifikasi adanya bakteri.

 

 

 

 

Gambar 2. Larutan media NB (b)

 

Pembahasan

Koloni berwarna putih yang tumbuh pada media NA dan PDA hasil metode penempelan langsung diduga merupakan koloni bakteri. Setelah dilakukan identifikasi menggunakan pewarnaan gram positif dan gram negative, tidak ada mikroorganisme yang teridentifikasi sebagai bakteri.

Mikroorganisme yang terdapat pada asam sunti merupakan mikroorganisme yang tahan asam sehingga perlu dilakukan metode pengayaan pada media NB. Dengan metode ini diharapkan mikroorganisme yang terdapat pada bakteri dapat tersuspensi dengan media cair NB. Setelah dilakukan isolasi menggunakan metode cawan gores pada media NA dan PDA, tidak ada satu koloni pun yang tumbuh pada media NA dan PDA tersebut. Pengamatan media  cair NB di bawah mikroskop juga tidak teridentifikasi adanya bakteri.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan, dengan metode penempelan langsung dan pengayaan, tidak teridentifikasi adanya bakteri dan cendawan yang dapat hidup pada lingkungan  asam sunti dengan pH dan kadar garam yang tinggi.

 

Saran

Untuk proses identifikasi lebih lanjut dapat dilakukan metode sequencing.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Kushner DJ. 1985. The Halobacteraceae. Di dalam: Woesse CR, Wolfe RS (ed). The Bacteria. Vol.8. London : Academic Pr. Hlm 171-214.

 

Ventosa A, Nieto JJ, Oren A. 1998. Biology of moderately halophilic aerobic bacteria. Microbiol Mol Biol Rev 62:504-544.

Categories: My Scientific research | Tags: , , , , | 1 Comment

Proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM-P)-Asam Sunti


Evi saptriyawati

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA


IDENTIFIKASI MIKROORGANISME PADA BUMBU DAPUR

“ASAM SUNTI” ASAL BELIMBING WULUH


PKM PENELITIAN

(PKMP)


Diusulkan oleh:

Evi Saptriyawati                    (G34063210/2006)

Muhammad Afnansyah       (G34080008/2008)

Binti Nur Azizah                   (G34080078/2008)


INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2010


HALAMAN PENGESAHAN

1. Judul Kegiatan : Identifikasi Mikroorganisme Pada Bumbu Dapur “Asam Sunti” Asal Belimbing Wuluh”
2. Bidang Kegiatan : (x) PKM-P(  ) PKM-T (  ) PKM-K(  ) PKM-M
3. Bidang Ilmu : (  ) Kesehatan (  ) Pertanian
(x) MIPA (  ) Teknologi dan Rekayasa
(  ) Sosial Ekonomi (  ) Humaniora
(  ) Pendidikan
4. Ketua Pelaksana Kegiatan
a.    Nama Lengkap : Evi Saptriyawati
b.   NIM : G34063210
c.    Jurusan : Biologi
d.   Universitas/Institut/Politeknik : Institut Pertanian Bogor
e.    Alamat Rumah dan No. Tel/Hp. : Wisma Intan No.106 Rt/Rw: 03/06Desa Setu Leutik Darmaga 16680 Bogor
f.    Alamat Email : Sahara_kimi@yahoo.com
5. Anggota Pelaksana Kegiatan / Penulis               :      3 orang
6. Dosen Pembimbing
a.       Nama Lengkap dan Gelar : Ir. Agustin Widya Gunawan.  M.S.
b.      NIP : 19480821 197301 2 001
c.       Alamat Rumah dan No. Tel/Hp. : Jl. Ampel Rt/Rw : 1/6 haurjaya Bogor / 08176402348
7. Biaya Kegiatan Total
a.       DIKTI : Rp 10.000.000
b.      Sumber Lain : Mahasiswa pelaksana kegiatan

JUDUL PROGRAM

Identifikasi Mikroorganisme Pada Bumbu Dapur “Asam Sunti”

Asal Belimbing Wuluh


LATAR BELAKANG MASALAH

Aceh yang terletak  di ujung Pulau Sumatera memiliki kuliner yang unik. Keunikan ini dipengaruhi oleh seni mengolah makanan dari beberapa negara antara lain, India, Arab, Siam, bahkan Belanda. Salah satu bumbu non-rempah yang selalu digunakan pada masakan Aceh adalah asam sunti yang berasal dari belimbing wuluh.  Asam sunti  sudah banyak digunakan di Medan, Padang, dan beberapa daerah lainnya di Sumatera. Namun, masyarakat di pulau Jawa dan beberapa Provinsi lainnya di Indonesia banyak yang belum mengenal dan menggunakan asam sunti.

Asam sunti merupakan salah satu bumbu dapur yang dapat disimpan lebih dari satu tahun dan tahan terhadap serangan mikroorganisme yang dapat menurunkan kualitas asam sunti. Hal ini dikarenakan oleh kadar asam dan garam yang terkandung di dalamnya sangatlah tinggi. Penyinaran oleh matahari juga berpengaruh terhadap daya tahan asam sunti karena proses penghilangan air dengan penjemuran dapat menghambat tumbuhnya mikroorganisme. Selama proses penjemuran tetap ditambahkan garam agar suasana dan pH asam sunti terjaga keasamannya, sehingga mikroorganisme tidak dapat tumbuh.

Pada kenyataannya kami pernah melihat asam sunti ini dapat juga ditumbuhi oleh mikroorganisme, yaitu terdapatnya miselium dan lendir. Pertumbuhan mikroorganisme ini dapat tumbuh cepat terutama pada kondisi lingkungan yang kelembabannya tinggi. Namun belum ada satu literatur pun yang melaporkan jenis mikroorganisme yang tumbuh pada asam sunti. Oleh karena itu kami berusaha meneliti ragam mikroorganisme yang dapat hidup pada asam sunti.

 

PERUMUSAN MASALAH

Permasalahan yang menjadi latar belakang proposal ini adalah:

a.             Asam sunti merupakan bumbu masak yang berasal dari belimbing wuluh yang belum dimanfaatkan secara menyeluruh di Nusantara.

b.            Asam sunti dapat dijadikan pangan subsitusi bagi asam kandis dan asam lainnya yang sering digunakan sebagai bumbu masak.

c.             Kadar asam dan garam tinggi yang terkandung pada asam sunti seharusnya dapat menghambat proses pertumbuhan mikroorganisme, namun pada kenyataannya asam sunti dapat juga ditumbuhi oleh mikroorganisme.

 

TUJUAN PROGRAM

Penelitian ini bertujuan:

a.       Mengisolasi ragam mikroorganisme yang dapat hidup pada lingkungan dengan kadar garam dan asam yang tinggi pada asam sunti.

b.      Mengidentifikasi mikroorganisme yang terdapat pada asam sunti yang telah ditumbuhi mikroorganisme.

 

LUARAN YANG DIHARAPKAN

Luaran yang diharapkan dari penelitian ini ialah adanya penyediaan  referensi mengenai ragam mikroorganisme yang dapat tumbuh pada pH asam dan kadar garam yang tinggi (memperkaya khasanah jenis mikroorganisme).

 

KEGUNAAN PROGRAM

Program penelitian ini merupakan ide awal untuk mengidentifikasi dan mengisolasi mikroorganisme yang terdapat pada asam sunti. Sehingga dapat memperkaya ragam mikroorganisme yang telah teridentifikasi. Hasil yang telah diperoleh dapat digunakan sebagai ide lanjut untuk meneliti karakteristik dan uji patogen dari mikroorganisme yang telah diidentifikasi.

TINJAUAN PUSTAKA

Asam sunti adalah sejenis bumbu dapur khas yang sering digunakan oleh masyarakat Aceh yang terbuat dari belimbing wuluh, karena dapat memberikan cita rasa, warna dan kekentalan pada masakan. Asam sunti dapat ditemukan di penjual bumbu dapur  pasar tradisional Aceh dan di supermarket bagian bumbu dapur Indonesia.

Proses pembuatan asam sunti dilakukan dengan penggaraman dan penjemuran dibawah sinar matahari. Penggaraman dan penjemuran dilakukan berulang sampai kering atau kandungan air dalam belimbing berkurang. Asam sunti yang dihasilkan berwarna coklat dan teksturnya kenyal. Asam sunti dapat disimpan lama sampai satu tahun bahkan lebih lama tanpa adanya perubahan warna dan tekstur. Hal ini dikarenakan kandungan asam dan garam yang cukup tinggi pada asam sunti dapat menghambat proses pembusukan oleh mikroorganisme.

Kelompok mikroorganisme yang sanggup hidup pada kondisi pH asam dan kadar garam tinggi ialah mikroorganisme halofil. Mikroorganisme dominan yang hidup pada lingkungan ini ialah bakteri halofil moderat dan arkea (archaea) halofil ekstrem. Menurut Kushner (1985) halofil moderat adalah kelompok mikroorganisme yang tumbuh optimum pada kadar NaCl 0.5-2.5 M. Bakteri halofil moderat memiliki banyak potensi, yaitu dalam fermentasi makanan, penghasil senyawa osmoprotektan, enzim hidrolitik, polimer, dan degradasi senyawa toksik (Ventosa et al. 1998).

Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroba. Beberapa kelompok mikroba sangat resisten terhadap perubahan  faktor lingkungan. Mikroba tersebut dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Faktor lingkungan meliputi faktor-faktor abiotik (fisika dan kimia), dan faktor biotik. Setiap mikroba memerlukan kandungan air bebas tertentu untuk hidupnya, biasanya diukur dengan parameter aw (water activity) atau kelembaban relatif. Mikroba umumnya dapat tumbuh pada aw 0,600-0,998. Bakteri umumnya memerlukan aw 0,900-0,999.

Mikroba yang osmotoleran dapat hidup pada aw terendah (0,60) misalnya khamir , Saccharomyces rouxii,  Aspergillus glaucus dan cendawan lain yang dapat tumbuh pada aw 0,80. Bakteri umumnya memerlukan aw lebih dari 0,98, tetapi bakteri halofil hanya memerlukan aw 0,75. Mikroba yang tahan kekeringan adalah yang dapat membentuk spora, konidia atau dapat membentuk kista. Tabel berikut ini memuat daftar aw yang diperlukan oleh beberapa jenis bakteri dan cendawan :

Nilai aw Bakteri Cendawan
1,00 Caulobacter
Spirillum
0,90 Lactobacilus Fusarium
Bacillus Mucor
0,85 Staphylococcus Debaromyces
0,80 Penicillium
0,75 Halobacterium Aspergillus
0,60 Xeromyces

 

Tekanan osmose sebenarnya sangat erat hubungannya dengan kandungan air. Apabila mikroba diletakkan pada larutan hipertonis, maka selnya akan mengalami plasmolisis, yaitu terkelupasnya membran sitoplasma dari dinding sel akibat mengerutnya sitoplasma. Apabila diletakkan pada larutan hipotonis, maka sel mikroba akan mengalami plasmoptisa, yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke dalam sel, sel membengkak dan akhirnya pecah.

Berdasarkan tekanan osmose yang diperlukan dapat dikelompokkan menjadi (1) mikroba osmofil, adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar gula tinggi, (2) mikroba halofil, adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar garam halogen yang tinggi, (3) mikroba halodurik, adalah kelompok mikroba yang dapat tahan (tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi, kadar garamnya dapat mencapai 30%. Contoh mikroba osmofil adalah beberapa jenis khamir. Khamir osmofil mampu tumbuh pada larutan gula dengan konsentrasi lebih dari 65 % wt/wt (aw = 0,94). Contoh mikroba halofil adalah bakteri yang termasuk Archaebacterium, misalnya Halobacterium.

Bakteri yang tahan pada kadar garam tinggi, umumnya mempunyai kandungan KCl yang tinggi dalam selnya. Selain itu bakteri ini memerlukan konsentrasi Kalium yang tinggi untuk stabilitas ribosomnya. Bakteri halofil ada yang mempunyai membran purple bilayer, dinding selnya terdiri dari murein, sehingga tahan terhadap ion Natrium.

 

METODE PELAKSANAAN PROGRAM

Tempat dan Waktu

Pengambilan sampel dilakukan pada dua pasar tradisional di Banda Aceh. Sedangkan penelitian akan dilakukan di laboratorium Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor dari bulan Januari sampai bulan Mei 2010.

 

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah autoklaf, cawan petri, gelas kimia, gelas ukur, pipet volumetrik, pipet tetes, ose, lampu spiritus, sentrifuse, mikroskop cahaya, microscope slides, botol scoot, magnetic stirer, penangas air dan laminar air flow.

Bahan yang digunakan adalah asam sunti, bahan pembuat media PDA (Potato Dextrose Agar) dan NA (Nutrient Agar), aquadest, alkohol, spiritus, korek api, kapas, aluminium foil, dan seal.

Metode Penelitian

  1. Pelaksanaan Tahap I

Melakukan survei asam sunti pada dua penjual di pasar tradisional Aceh yang berbeda. Pada bulan Januari (empat bulan setelah survei) akan dilakukan pengambilan sampel pada dua penjual tersebut untuk diteliti di laboratorium Biologi IPB. Sampel yang diambil adalah asam sunti yang telah ditumbuhi oleh mikroorganisme.

  1. Pelaksanaan Tahap II

Melakukan isolasi terhadap sampel dengan menggunakan metode cawan gores. Media yang digunakan adalah PDA (Potato Dextrose Agar) dan NA (Nutrient Agar) untuk mengidentifikasi jenis mikroorganisme yang tumbuh pada asam sunti. PDA merupakan media tumbuh bagi cendawan sedangkan NA merupakan media tumbuh bagi bakteri. Setiap perlakuan dilakukan lima kali pengulangan.

  1. Pelaksanaan Tahap III

Melakukan pengamatan mikroorganinsme yang tumbuh pada media PDA dan NA dengan bantuan mikroskop cahaya, baik menggunakan pewarna atau tanpa pewarna. Hasil pengamatan akan dibandingkan dengan literatur yang ada sehingga dapat digolongkan kedalam jenis bakteri atau cendawan. Setelah diidentifikasi, isolat-isolat tersebut diremajakan untuk studi lebih lanjut

 

JADWAL KEGIATAN TERPROGRAM

Rencana Jadwal Pelaksanaan Program

No Kegiatan Bulan
Januari februari Maret April Mei
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Studi literatur
2 Pengambilan Asam sunti
3 Persiapan bahan dan alat
4 Isolasi mikroorganisme
5 Identifikasi  mikroorganisme
6 Peremajaan mikroorganisme
7 Pengolahan data
8 Penyusunan laporan
9 Revisi, perbaikan, dan penyerahan laporan

NAMA DAN BIODATA PELAKSANA PROGRAM

Ketua

Nama                                 : Evi Saptriyawati

NIM                                  : G34063210

Fakultas/Departemen        : FMIPA/Biologi

Perguruan Tinggi               : Institut Pertanian Bogor

Waktu untuk PKM           : 5 jam/minggu

Anggota

Nama                                 : Muhammad Afnansyah

NIM                                  : G34080008

Fakultas/Departemen        : FMIPA/Biologi

Perguruan Tinggi               : Institut Pertanian Bogor

Waktu untuk PKM           : 5 jam/minggu

 

Anggota

Nama                                 : Binti Nur Azizah

NIM                                  : G34080078

Fakultas/Departemen        : FMIPA/Biologi

Perguruan Tinggi               : Institut Pertanian Bogor

Waktu untuk PKM           : 5 jam/minggu

NAMA DAN BIODATA DOSEN PENDAMPING

Nama Lengkap                                : Ir. Agustin Widya Gunawan. M.S.

Tempat Tanggal Lahir                      : Semarang, 21 Agustus 1948

NIP                                                  : 19480821 197301 2 001

Jabatan Fungsional                          : Dosen Departemen Biologi FMIPA IPB

Fakultas/Departemen                       : MIPA/Biologi

Perguruan Tinggi                             : Institut Pertanian Bogor

Bidang Keahlian                              : Mikologi

Waktu untuk Kegiatan PKM           : 4 jam/minggu

 

ANGGARAN BIAYA PENELITIAN

No Jenis uji Bahan Alat Biaya(Rp)
1 Pengambilan asam sunti Asam sunti Biaya pengambilan Rp 3.000.000,00
2 Bahan habis pakai Media - Rp  3.500.000,00
Aquadest, alkohol dan spritus - Rp     300.000,00
Kapas, seal, korek - Rp       20.000,00
3 Peralatan penunjang PKM - Cawan petri Rp     800.000,00
- Gelas kimia, gelas ukur, pipet volumetrik dan pipet tetes Rp     500.000,00
- Ose Rp        50.000,00
4 Administrasi Kertas A4 - Rp      300.000,00
5 Dan lain-lain - - Rp   1.000.000,00
Total Rp 9.470.000,00

DAFTAR PUSTAKA

Kushner DJ. 1985. The halobacteriaceae. Di dalam: Woesse CR, Wolfe RS

(ed). The Bacteria. Vol. 8. London: Academic Pr. hlm 171-214.

 

Ventosa A, Nieto JJ, Oren A. 1998. Biology of moderately halophilic aerobic

bacteria. Microbiol Mol Biol Rev 62:504-544.

LAMPIRAN

BIODATA

KETUA

1. Nama                                       : Evi Saptriyawati

NIM                                        : G34063210

Fakultas / Departemen            : MIPA / Biologi

Tempat, tanggal lahir              : Matang GLP. Dua, 03 Desember 1987

Alamat                                                : Jln. Singgah mata Lr. Tepi kali No. 13 Blower

23243 Banda Aceh-NAD

No Telepon / Handphone        : 0852 860 789 89

Email                                       :sahara_kimi@yahoo.com

Riwayat pendidikan                :

1.       TK Aisyiah B.Aceh                                 (1992-1993)

2.       SD Negeri 7 B.Aceh                                (1993-1999)

3.      SLTP Negeri 1 B.Aceh                             (1999-2002)

4.      SMA Negeri 10 Fajar Harapan B.Aceh    (2002-2005)

5.      Mahasiswa PSIK Kedokteran Unsyiah     (2005-2006)

6.      Mahasiswa S-1 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor (2006-sekarang)

Pengalaman Organisasi           :

1.      Ketua OSIS 1 SMA Negeri 10 Fajar Harapan

2.      Pengawas koperasi SMA Negeri 10 Fajar Harapan

3.      Bendahara koperasi SMA Negeri 10 Fajar Harapan

4.      Ketua Kohati HMI Cabang Bogor

5.      Ketua Bidang kewirausahaan Omda IMTR Aceh Bogor

6.      Peserta pesantren kilat

7.      Bendahara rohis kelas Biologi

Prestasi                                    :

1.      Juara 10 pesantren kilat

2.      Juara 3 Lomba Cepat Tepat SMA tingkat Kotamadya Banda Aceh

3.      Juara 13 Olimpiade Biologi tingkat Kotamadya Banda Aceh

4.      Peringkat kelas kedua SMA Negeri 10 Fajar Harapan

5.      Diterima di Fakultas Kedokteran Unsyiah melalui jalur PMDK

6.      Diterima di IPB melalui jalur BUD (Beasiswa Utusan Daerah)

Anggota:

1. Nama                                       : Muhammad Afnansyah

NIM                                        : G34080008

Fakultas / Departemen            : MIPA / Biologi

Tempat, tanggal lahir              : Lhokseumawe, 23 November 1989

Alamat                                                : Jalan Masjid Gg. Hasansyah, Mon

Geudong, Lhokseumawe

No Telepon / Handphone        : 0857 179 517 86

Email                                       : af_nansss@yahoo.com

Riwayat pendidikan                :

1.      TK Malahayati                              (1994-1995)

2.      MI Negeri Kuta Blang                  (1995-2002)

3.      MTS Negeri 29 Lhokseumawe     (2002-2005)

4.      SMA Negeri I Lhokseumawe       (2005-2008)

5.      Mahasiswa S-1 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor (2009-sekarang)

Pengalaman Organisasi           :

1.      Ketua Rohis SMA Negeri I Lhokseumawe            (2007-2008)

2.      Wakil ketua OSIS MTS Negeri 29 Lhokseumawe (2003-2005)

3.      Ketua Rohis MTS Negeri 29 Lhokseumawe          (2004-2005)

4.      Ketua PII MTS Negeri 29 Lhokseumawe                          (2004-2005)

Prestasi                                    :

1.      Juara II Basket Tingkat se-SMA Negeri 1 Lhokseumawe (2008)

2.      Peringkat II Olimpiade Sains se- SMA Negeri 1 Lhokseumawe (2007)

2.  Nama                                       : Binti Nur Azizah

NIM                                        : G34080078

Fakultas / Departemen            : MIPA / Biologi

Tempat, tanggal lahir              : Kediri, 11 September 1989

Alamat                                                : Pluncing – Siman Kecamatan Kepung

Kabupaten Kediri Jawa Timur

No Telepon / Handphone        : 0856 450 938 55

Email                                       : az1zah_bgt@yahoo.co.id

Riwayat pendidikan                :

1.      TK Kusuma Mulya           (1994-1995)

2.      MI Nabatul Ulum             (1995-2002)

3.      SMP Negeri I Kepung      (2002-2005)

4.      SMA Negeri I Pare           (2005-2008)

5.      Mahasiswa S-1 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor (2009-sekarang)

Pengalaman Organisasi           :

1.      Pramuka SMA Negeri I Pare

2.      PMR SMA Negeri I Pare

3.      Teater SMA Negeri I Pare

4.      Badminton SMA Negeri I Pare

5.      Rohis Biologi, FMIPA, IPB

Prestasi                                    :

1.      Peringkat kelas pertama di MI Nabatul Ulum

2.      Harapan I lomba Story Telling tingkat Kabupaten Kediri

Biodata Dosen Pembimbing

Nama                                                   : Ir. Agustin Widya Gunawan, M.S.

NIP                                                     : 19480821 197301 2 001

Tempat, Tanggal Lahir                        : Semarang, 21 Agustus 1948

Pendidikan terakhir                             : S2

Keahlian                                              : Mikologi / Biologi

Alamat kantor                                     : Jalan Agatis Gedung Fapet Wing 1, lantai

5, Kampus IPB Dramaga, Phone/Fax/

(0251) 8622833

Waktu untuk bimbingan PKM            : 4 Jam / minggu

english version

CREATIVITY PROGRAM STUDENTS

IDENTIFICATION OF THE MICROORGANISM herbs

“ACID SUNTI” ORIGIN starfruit wuluh

PKM RESEARCH

(PKMP)

Proposed by:

Evi Saptriyawati (G34063210/2006)

Muhammad Afnansyah (G34080008/2008)

Nur Azizah Binti (G34080078/2008)

Bogor Agricultural University

BOGOR

2010


CERTIFICATION PAGE

1. Activity Title: Identification of Microorganisms in Spices Kitchen “Acid Sunti” Origin Carambola Wuluh “
2. Field Events: (x) PKM-P

() PKM-T
() PKM-K

() PKM-M
3. Science: () Health () Agriculture
(X) Mathematics () Technology and Engineering
() Social and Economic () Humanities
() Education
4. Chief Executive Activities
a. Full Name: Evi Saptriyawati
b. NIM: G34063210
c. Major: Biology
d. University / Institute / Polytechnic: Institut Pertanian Bogor
e. Address Home and No. Tel / Hp. : Wisma Diamond No.106 Rt / Rw: 03/06

Setu village 16 680 Bogor Leutik Darmaga
f. Email Address: Sahara_kimi@yahoo.com
5. Executive Member Activities / Writer: 3 people
6. Supervisor
a. Full Name and Title: Ir. Agustin Widya Gunawan. M.S.
b. NIP: 19480821 197301 2001
c. Address Home and No. Tel / Hp. : Jl. Ampel Rt / Rw: 1 / 6 haurjaya Bogor / 08176402348
7. Total Activity Costs
a. DIKTI: Rp 10,000,000
b. Other Sources: Students executors activity

PROGRAM TITLE

Identification of Microorganisms in Spices Kitchen “Acid Sunti”

Originally Carambola Wuluh

ISSUE BACKGROUND

Aceh, located on the tip of Sumatra Island has a unique culinary. This uniqueness is influenced by the art of making food from several countries, among others, India, Arabia, Siam, and even the Netherlands. One non-spice seasoning which is always used in the cuisine of Aceh is sunti acid derived from starfruit wuluh. Sunti acid is widely used in Medan, Padang, and several other areas in Sumatra. However, people in Java and several other provinces in Indonesia, many are not familiar with and use sunti acid.

Sunti acid is one of the herbs that can be stored more than one year, and resistant to attack of microorganisms that can degrade the quality of sunti acid. This is caused by acid and salt content contained in them is very high. Radiation by the sun also affects the acid resistance sunti because the removal of water with the drying process can inhibit the growth of microorganisms. During the drying process still added salt to the atmosphere and the pH of acidic acid sunti awake, so that microorganisms can not grow.

In fact we’ve seen this sunti acid can also be overgrown by microorganisms, namely the presence of mycelium and mucus. The growth of these microorganisms can grow rapidly, especially under conditions of high humidity environment. Yet no one any literature that reported the type of microorganisms that grow on acid sunti. Therefore we tried to examine the range of microorganisms that can live on sunti acid.

PROBLEM FORMULATION

Problems that become the background of this proposal are:

a. Sunti acid is a seasoning that comes from starfruit wuluh untapped throughout the whole of the archipelago.

b. Sunti acid substitutions can be used as food for kandis acid and other acids which are often used as a spice in cooking.

c. Acid and high levels of salt contained in sunti acid should be able to inhibit microorganism growth process, but in reality sunti acid can also be overgrown by microorganisms.

PROGRAM OBJECTIVES

This research aims:

a. Isolate the range of microorganisms that can live in environments with salt and acid levels are high in acid sunti.

b. Identifying microorganisms contained in sunti acid that has been overgrown with microorganisms.

EXPECTED outcome

Expected outcomes of this research is the provision of references to various microorganisms that can grow at acidic pH and high salinity (enriched type of microorganism).

PROGRAM USE

This research program is the initial idea to identify and isolate microorganisms contained in sunti acid. So that can enrich the variety of microorganisms that have been identified. The results obtained can be used as further ideas to research and test characteristics of pathogenic microorganisms that have been identified.

LITERATURE REVIEW

Sunti acid is a kind of distinctive herbs are often used by people of Aceh are made from starfruit wuluh, because it can provide flavor, color and thickness of the cuisine. Sunti acid can be found in traditional markets selling herbs in the supermarket section of Aceh and Indonesian herbs.

Sunti acid making process is done by salting and drying under the sun. Salting and drying is repeated until dry or reduced water content in the star fruit. Sunti acid produced brown and chewy texture. Sunti acid can be stored longer than a year and even longer without a change in color and texture. This is because the acid and salt content is high enough on sunti acid can inhibit the process of decomposition by microorganisms.

Group of microorganisms that can live in conditions of acidic pH and high salt content is halofil microorganisms. Dominant microorganisms that live in this environment is moderate and arkea halofil bacteria (archaea) halofil extreme. According to Kushner (1985) halofil moderates are a group of microorganisms that grow optimum at 0.5-2.5 M NaCl concentration Bacteria halofil moderates have a lot of potential, namely in food fermentation, producing osmoprotektan compounds, hydrolytic enzymes, polymers, and degradation of toxic compounds (Ventosa et al. 1998).

Microbial activity is influenced by environmental factors. Environmental changes can lead to changes in morphology and physiology of microbes. Several groups of microbes are very resistant to changes in environmental factors. Microbes that can quickly adapt to new conditions. Environmental factors include abiotic factors (physical and chemical) and biotic factors. Each microbe requires a certain free water content to life, usually measured by the parameter aw (water activity) or relative humidity. Microbes can grow at aw generally from 0.600 to 0.998. Bacteria generally require aw from 0.900 to 0.999.

Osmotoleran microbes that can live at low aw (0.60), for example yeast, Saccharomyces rouxii, Aspergillus glaucus and other fungi that can grow at aw 0.80. Aw Bacteria generally require more than 0.98, but the bacteria halofil only need aw 0.75. Drought-resistant microbes is that can form spores, conidia or can form a cyst. The following table lists the aw is required by some types of bacteria and fungi:
Aw value Bacteria Fungus
1.00 Caulobacter
Spirillum
0.90 Lactobacilus Fusarium
Bacillus Mucor
0.85 Staphylococcus Debaromyces
0.80 Penicillium
0.75 Halobacterium Aspergillus
0.60 Xeromyces

Osmose pressure actually very closely related to water content. If microbes are placed on hipertonis solution, then the cell will experience plasmolysis, ie terkelupasnya cytoplasmic membrane of the cell wall due to mengerutnya cytoplasm. When placed in solution hipotonis, the microbial cell will experience plasmoptisa, namely rupture of cells due to fluid entry into cells, cells swell and eventually rupture.

Based osmose pressure required can be grouped into (1) microbial osmofil, is a microbe that can grow in high sugar content, (2) microbial halofil, is a microbe that can grow in high salinity halogen, (3) microbial halodurik, is the group microbe that can withstand (not dead) but can not grow at high salt levels, salt levels can reach 30%. Examples of microbial osmofil are several types of yeast. Yeast osmofil able to grow on the sugar solution with a concentration more than 65% wt / wt (aw = 0.94). Examples of microbes including bacteria halofil is Archaebacterium, such as Halobacterium.

Bacteria that are resistant to high salt levels, generally have a high content of KCl in the cell. In addition, these bacteria require high concentrations of potassium for stability ribosomnya. Bacteria halofil there that have a purple membrane bilayer, the cell wall composed of murein, which is resistant to sodium ions.

PROGRAM EXECUTION METHOD

Place and Time

Samples were taken at two traditional markets in Banda Aceh. While the research will be conducted in the laboratory the Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University from January to May 2010.

Tools and Materials

The instrument used is an autoclave, Petri dishes, beakers, measuring cups, volumetric pipettes, pipette drops, ose, methylated spirit lamp, centrifuge, microscope light, microscope slides, bottles Scoot, magnetic stirer, water bath and laminar flow.

The materials used are acid sunti, material for PDA (Potato Dextrose Agar) and NA (Nutrient order), distilled water, alcohol, spirits, matches, cotton, aluminum foil, and seal.

Research Methods

1. Implementation Phase I

Conducting surveys sunti acid on the two sellers in the market of different traditional Acehnese. In January (four months after the survey) will be conducted sampling at two sellers are to be tested in the laboratory of Biology IPB. Sample taken is sunti acid that has been overgrown by microorganisms.

1. Implementation of Phase II

Doing the isolation of the sample cup using scratch. The media used were PDA (Potato Dextrose Agar) and NA (Nutrient order) to identify the types of microorganisms that grow on acid sunti. PDA is a growing medium for fungi, while NA is a growing medium for bacteria. Each treatment was done five times repetition.

1. Implementation Phase III

Mikroorganinsme observed growing on PDA and NA with the help of light microscope, using either dye or without dye. The observation will be compared with the existing literature so that it can be classified into the type of bacteria or fungi. Once identified, these isolates rejuvenated for further study

SCHEDULE OF ACTIVITIES programmed

Program Implementation Plan Schedule
No Activity

Moon
January February March April May
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
A literature study
2 Taking Acid sunti
3 Preparation of materials and equipment
4 Isolation of microorganisms

5 Identification of microorganisms
6 Rejuvenation microorganisms
7 Data processing
8 Preparation of report
9th Revision, improvement, and delivery reports

NAME AND IMPLEMENTING PROGRAMS Bios

Chairman

Name: Evi Saptriyawati

NIM: G34063210

Faculty / Department: Science / Biology

College: Institut Pertanian Bogor

Time to PKM: 5 hours / week

Members

Name: Muhammad Afnansyah

NIM: G34080008

Faculty / Department: Science / Biology

College: Institut Pertanian Bogor

Time to PKM: 5 hours / week

Members

Name: Nur Azizah Binti

NIM: G34080078

Faculty / Department: Science / Biology

College: Institut Pertanian Bogor

Time to PKM: 5 hours / week

COACH NAME AND LECTURER Bios

Full Name: Ir. Agustin Widya Gunawan. M.S.

Place Date of Birth: Hyderabad, August 21, 1948

NIP: 19480821 197301 2001

Functional Position: Lecturer Department of Biology, State IPB

Faculty / Department: Science / Biology

College: Institut Pertanian Bogor

Expertise: mycology

Time for Activity PKM: 4 hours / week

RESEARCH BUDGET PRICES
No Type of Material Test Equipment Costs

(USD)
1 Taking Acid sunti acid sunti Fee Rp 3,000,000.00
2 Materials consumables Media – USD $ 3,500,000.00
Distilled water, alcohol and spritus – Rp 300.000,00
Cotton, seals, matches – Rp 20.000,00
3 PKM supporting equipment – Grail petri USD 800,000.00
- Glass chemistry, measuring cups, volumetric pipettes and pipette drops of USD 500,000.00
- Ose Rp 50.000,00
4 Administration Paper A4 – Rp 300.000,00
5 And others – - Rp 1.000.000,00
Total $ 9,470,000.00

REFERENCES

Kushner DJ. 1985. The halobacteriaceae. Inside: Woesse CR, Wolfe RS

(Ed). The Bacteria. Vol. 8. London: Academic Pr. pp 171-214.

Ventosa A, Nieto JJ, Oren A. 1998. Biology of moderately halophilic aerobic

bacteria. Microbiol Mol Biol Rev 62:504-544.

APPENDIX

Bios

CHAIRMAN

1. Name: Evi Saptriyawati

NIM: G34063210

Faculty / Department: Science / Biology

Place, date of birth: Matang GLP. Two, December 3, 1987

Address: Jln. Transit eyes Lr. No edge times. 13 Blower

23 243 Banda Aceh-NAD

No Phone / Mobile: 0852 860 789 89

Email: sahara_kimi@yahoo.com

History of education:

1. TK Aisyiah B. Aceh (1992-1993)

2. Elementary School 7 B. Aceh (1993-1999)

3. Junior High School 1 B. Aceh (1999-2002)

4. SMA Negeri 10 Fajar Harapan B. Aceh (2002-2005)

5. Medical Students PSIK Unsyiah (2005-2006)

6. S-1 student Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Department of Biology, Bogor Agricultural University (2006-present)

Experience Organization:

1. Chairman OSIS SMA Negeri 1 10 Dawn Hope

2. Supervisor cooperative SMA 10 Dawn Hope

3. Treasurer cooperative SMA 10 Dawn Hope

4. HMI Kohati Bogor Branch Chief

5. Head of entrepreneurship Omda IMTR Aceh Bogor

6. Participants boarding lightning

7. Treasurer Rohis Biology class

Achievements:

1. Winner of 10 boarding lightning

2. 3rd Place Contest Fast SMA Right Banda Aceh municipality level

3. Winner of 13 Olympic-level Biology Municipality of Banda Aceh

4. Ranking second class of SMA 10 Dawn Hope

5. Accepted by the Faculty of Medicine Unsyiah through PMDK

6. Accepted in IPB through the BUD (Scholarship Regional Representatives)

Member:

1. Name: Muhammad Afnansyah

NIM: G34080008

Faculty / Department: Science / Biology

Place, date of birth: Lhokseumawe, 23 November 1989

Address: Jalan Masjid Gg. Hasansyah, Mon

Geudong, Lhokseumawe

No Phone / Mobile: 0857 179 517 86

Email: af_nansss@yahoo.com

History of education:

1. TK Malahayati (1994-1995)

2. MI State Kuta Blang (1995-2002)

3. MTS 29 Lhokseumawe Affairs (2002-2005)

4. High School I Lhokseumawe (2005-2008)

5. S-1 student Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Department of Biology, Bogor Agricultural University (2009-present)

Experience Organization:

1. Chairman Rohis SMAN Lhokseumawe (2007-2008)

2. MTS student council vice chairman of State 29 Lhokseumawe (2003-2005)

3. Chairman of MTS Affairs Rohis 29 Lhokseumawe (2004-2005)

4. PII Affairs Chairman MTS 29 Lhokseumawe (2004-2005)

Achievements:

1. Second Place Basket Level as SMA Negeri 1 Lhokseumawe (2008)

2. Level II Science Olympiad as SMA Negeri 1 Lhokseumawe (2007)

2. Name: Nur Azizah Binti

NIM: G34080078

Faculty / Department: Science / Biology

Place, date of birth: Kediri, 11 September 1989

Address: Pluncing – Siman District Surround

Kediri, East Java

No Phone / Mobile: 0856 450 938 55

Email: az1zah_bgt@yahoo.co.id

History of education:

1. TK Kusuma Mulya (1994-1995)

2. MI Nabatul Ulum (1995-2002)

3. Junior High School I Surround (2002-2005)

4. High School I Pare (2005-2008)

5. S-1 student Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Department of Biology, Bogor Agricultural University (2009-present)

Experience Organization:

1. Boy Scout High School I Pare

2. PMR High School I Pare

3. Theater High School I Pare

4. Badminton High School I Pare

5. Rohis Biology, Science Faculty, IPB

Achievements:

1. Class rank first in the MI Nabatul Ulum

2. Hope I Story Telling contest Kediri regency level

Supervisor Bios

Name: Ir. Agustin Widya Gunawan, M.S.

NIP: 19480821 197301 2001

Place, Date of Birth: Hyderabad, August 21, 1948

Educational Background: S2

Expertise: mycology / Biology

Office address: Jalan Agatis Fapet Wing Building 1, floor

5, Campus IPB Dramaga, Phone / Fax /

(0251) 8622833

Time for guidance PKM: 4 Hours / week


Categories: My Scientific research | Tags: , , , | 3 Comments

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: