Aku Malu Menjadi Wanita


Evi saptriyawati

Sesaat ketika membereskan buku-buku untuk di packing, saya menemukan sebuah artikel yang diberikan oleh salah seorang teman rohis ketika saya masih tingkat satu. Sudah hampir 5 tahun artikel ini saya simpan, karena isinya mengandung makna yang dalam tentang perumpaman seorang wanita di dunia. Berikut kutipan dari artikel tersebut :

[ Start ] Wanita itu Ibarat Buku yang Dijual di Toko Buku” kata Ukhti Liana, salah seorang mentor rohani ketika SMA.

Ia melanjutkan ceritanya “Begini asosiasinya….

Di suatu toko buku, banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat buku. Tiap pengunjung memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah para pengunjung tersebar merata di seluruh sudut ruangan took buku. Ia akan tertarik untuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus, sekalipun ia hanya membaca synopsis ataupun referensi buku tersebut. Bagi pengunjung yang berjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia beli. Tentu ia memilih buku yang bersampul, karena masih baru dan terjaga. Transaksi di kasirpun segera terjadi”.

“iya, terus kak…?”kataku dan teman-teman, dibuat penasaran olehnya.

“Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli sejati, maka buku yang ia rasa menarik, bukannya ia beli, justru ia mencari buku dengan judul sama tapi yang tidak bersampul. Kenapa? Karena untuk dia baca saat itu juga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam, ternoda oleh coretan, sobek, baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi buku yang tidak tersampul itu dibaca oleh lebih satu orang, bahkan bisa berkali-kali oleh pengunjung yang berbeda namun berjiwa sama, bukan pembeli sejati melainkan pembeli yang tidak bertanggung jawab. Lama kelamaan, kasihan lah buku tersebut, makin kusam hingga banyak yang enggan untuk membelinya” cerita Ukhti Liana.

“wanita itu ibarat buku, jika ia tersampul oleh jilbab, maka itu adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Lebih-lebih jika jilbab itu tidak hanya untuk tampilan saja, tapi juga untuk menjilbabkan hati….SUBHANALLAH!!!

Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki yang telah ALLAH siapkan untuk mendampingi menggenapkan ½ dienNya. Dengan gagah berani dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli buku itu dengan transaksi di kasir yang dibaratkan dengan pernikahan. Bedanya, pengunjung yang iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki yang zaman sekarang bisa dikatakan suka pacaran….. Menguak-nguak kepribadian dan kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya tersakiti, merintih dengan tangisan, hingga paling fatal ternodai dengan free-sex… NA’UDZUBILLAH

Padahal tidak semua buku tidak semua toko buku berani menjual buku-bukunya dengan fasilitas buku tersampul. Maka tentulah toko buku itu adalah toko buku pilihan. Ia ibarat lingkungan, yang jika lingkungan itu  baik, maka baik pula apa-apa yang ada di dalamnya.” Kata ukhti liana.

“wah kalau begitu jadi wanita harus hati-hati ya…! “celetuk salah seorang teman

“hmm, apakah apapun di dunia ini akan dapat yang seimbang ya kak? Kayak itu deh, buku yang tersampul dibeli oleh pembeli yang bertanggung jawab. Itukah perumpaman wanita yang baik dan terjaga akhlaknya juga dapat laki-laki yang baik, bahkan INSYAALLAH mapan, sholeh, pokonya yang baik-baik juga. Gitu ya kak? “ kata teman.

“benar seperti Janji ALLAH, “Wanita keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji pula, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula (An-Nur:26). Dan hanya ALLAH yang tak menyalahi Janji” Jelas Ukhti Liana

Empat tahun berselang…diskusi itu masih mengena dihatiku. Hingga pada suatu malam, pada suatu muhasabah menyambut usia yang bertambah. Pff, YA ALLAH…tahu begini “AKU MALU MENJADI WANITA”. “ bisikku

ALLAH penggenggam segala ilmu, sebelum ia ciptakan kita, ia pasti punya pertimbangan khusus, hingga akhirnya kita lahir kedunia sebagai seorang wanita. Waniat adalah makhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa lahir manusia semulia RASULULLAH SAW. Ataupun manusia sehina Fir’aun.

Jika banyak dari orang lain bangga menjadi wanita, karena wanita layak dipuji, karena wanita cantik mempesona, karena wanita bisa dibeli dengan harta, karena wanita cukup menggoda, dan lain sebagainya, maka justru sebaliknya, dengan lantang aku berkata…” aku malau menjadi wanita

Ya aku malu menjadi wanita jika faktanya wanita itu gampang diiming-imingi harta dengan mengorbankan harga dirinya. Aku malu menjadi wanita jika ternyata wanita itu sebagai sumber maksiat, memikat, hingga mengajak pada jalan sesat yang tidak terjaga dan pada akhirnya memunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita jika ternyata tindak tanduk wanita mampu membuahkan angan-angan bagi pria. Aku malu menjadi wanita jika ternyata wanita tidak sanggup jadi ibu yang bijak bagi anak dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya. [ End ]

Kutipan diatas, semoga dapat menjadi bahan  renungan bagi kita para wanita terutama saya pribadi dan wanita muslim pada khususnya, sudah sejauh mana diri bisa menjaga fitrah sebagai wanita, menjaga amanah ALLAH yang begitu besar, menjadi wanita shalih bagi suami, anak, dan keluarga besar tentunya.

Menjadi wanita adalah amanah, bukan amanah yang sementara. Tapi amanah sepanjang usia ini ada. Menjadi wanita pun tidaklah mudah. Butuh iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman.. Jika diri ini pernah menjalin suatu hubungan walau tidak berjalan lama, dengan niat ingin menikah, bila itu salah menurut-MU, maka maafkan lah YA RAB, ENGKAU jua yang memisahkan kami, karena ku yakin ENGKAU telah mempersiapkan seseorang yang terbaik untukku. Hanya bisa bersabar sampai akhirnya hati ini yakin pada pinangan seorang pria yang telah diberikan oleh ALLAH pada ku, sebagai suami, imam yang soleh, bisa membimbing ku menuju ketaqwaan dan keridhoan ALLAH.

Bunda Khadijah, Aisyah dan Fatimah, mereka menunjukkan bahwa sesungguhnya wanita itu mahkluk yang luar biasa, penerus kehidupan. Dari kelembutan hatinya, ia sanggup menguak gelapnya dunia, menyinarinya dengan cinta. Dari kesholehan akhlaknya, ia sanggup menjaga dunia dari generasi-generasi hina dengan mengajarkanya ilmu dan agama. Dari kesabaran pekertinya, ia sanggup mewarnai kehidupan dunia, hingga perjuangan itu terus ada.

ALLAH maafkan diri akan kedangkalan ilmu dan rendahnya tekadku. Aku berlindung pada-Mu dari diriku sendiri. Bantu aku ya RABBY, untuk tidak lagi menghadirkan kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di dunia-Mu. Hingga kelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan akhlak yang kuusahakan. Ya, Wanita Sholehah. Lindungi pula saudara-saudara muslim ku lainnya YA RAB, semoga mereka juga selalu terjaga dalam bimbingan , inayah dan keridhoan-Mu. AMIN

Categories: Lintas Cakrawala | Tags: , , , , | 36 Comments

Post navigation

36 thoughts on “Aku Malu Menjadi Wanita

  1. aangbikinblog

    di balik kerudung wanita tersimpan misteri, misteri yg membuat beberapa kaum adam untuk mengetahuinya…

    • makanya ALLAH memerintah kaum hawa untuk menjaga misteri tersebut sampai akhirnya terkuak oleh yang berhak yang menyingkap misteri tersebut

  2. asosiasinya ini mirip dengan kue juga ya yg dipajang di toko kue, dibalut dan bukan kue jalanan yg kadang dihinggap lalat, terkena debu, dsb…

    tulisan menarik ya ukhti🙂

  3. untuk saya lahir sebagai pria…

    tapi pria juga memiliki tanggung jawab yang besar bagi wanita

    • pria dna wanita memiliki peran nya masing-masing dan saling melengkapi tentunya,
      makanya kita diciptkan berpasang-pasangan, bukan begitu?😀

  4. Irfan Handi

    SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H.

    “MINAL AIDIN WALFAIZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.”

  5. Rapatkanlah jilbab/hijab …
    Aku turut berdoa agar kamu menjadi akhwat yang sholihah dan istiqomah …

  6. Setiap keindahan adalah perhiasan dunia dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita salehah. Surga ada di bawah telapak kaki ibu, sementara seorang ibu adalah seorang wanita.

  7. waduh.. jadi malu juga saya :”>

  8. assalamu alaikum ukh..

    ana suka dialognya, itulah wanita
    sebagai seorang wanita, terutama dizaman searng ini, kita harus pandai menjaga idri, jangan cepat terbawa rayuan lelaki yang tak bertanggungjawab….semoga sebagai wanita muslimah kita mampu menjaga diri hingga yang berhak datang menghampiri 🙂😉
    amin ya Robb..

  9. Citra W. Hapsari

    assalamu’alaykum mas,…hehee,…
    hmmm,gud reading sist😀

  10. wanita atau pria sama saja, itu kalau kata iklan KB.
    toh, yang membedakan cuma ketakwaan.
    hmm, kalo pria layak diasosiasikan dengan apa ya supaya malu juga.

  11. wanspeak

    Luar biasa! ada makna terselip di dalamnya!
    Cinta sejati tidak harus diawali dengan pacaran tapi dibuktikan dengan pernikahan!
    #lagi galau nikah, gara2 temen sudah banyak yg nikah

  12. di hijab tersisip malu..
    malu itu sebagian dari iman..
    jadi…

    genapkanlah sebagiannya lagi dengan menikah..
    hehehe

    salam hangat sahabat,
    udariki

  13. dosa terbesar adalah wanita terjaga yang tidak menjaga foto-foto pribadinya untuk dilihat oleh lawan jenis. dosanya sedang mengalir saat ia tidur, kuliah, kerja, dan aktivitas lainnya. hingga laki-laki melihat dengan penuh syahwat. jazakumullah….

  14. jazakumullah teman sudah saling mengingatkan dan berbagi disini,,semoga bermanfaat🙂

  15. jika di samakan dengan drama, maka tulisan diatas baru berlangsung 1/2 babak dengan buku sebagai pelaku utama…..bagaimana dengan sang pembeli dan sang penulis?
    tentu anda tahu, siapa yang menjadi penulis tersebut!!

  16. Beruntung aku pengunjung toko buku yang berjiwa pembeli sejati. Walaupun tidak satupun buku yang ku beli, membacanya saja gak berani. Bingung y dengan kata kata ku di atas…

    Jangan malu jadi wanita. Tanpa wanita, laki-laki tidak ada.

    Oh y aku sangat suka membaca, posting kamu bagus. Tapi sedikit masukan dariku… sudah banyak y, gak apa lah 1 lagi. Kata guru ku kita harus bersyukur atas apa yang kita punya, ketetapan yang sudah di berikan Allah kepada kita & berusaha menjalani kehidupan di dunia sebaik mungkin. Kamu tidak inginkan kehidupan mu di dunia tidak bermakna.

  17. Mas Gerry Seniman Ujung Sunyi

    Aku ndak mau menyibak misteri, cukup awal langkah pertama adalah tegakkan sholat 5 waktu dengan baik, benar dan disiplin. Soal menyibak insya Allah secara alami juga ijinNya akan tersibak sendiri🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: