Aceh Ku Sayang, Aceh Ku Rindu


Evi saptriyawati

“Aceh Ku Sayang, Aceh Ku Rindu” (dalam Bahasa Aceh “Aceh Loen Sayang, Aceh Loen Rindu”). Aceh, satu nama yang memiliki banyak arti dalam hidupku. Disini aku lahir, disini pula aku dibesarkan. Memang kota nya tidak begitu luas, tapi kekayaan alamnya begitu besar, semangat juang masyarakat disana juga tak kan pernah padam. Masyarakatnya ramah-tamah, arif, bijaksana, penolong, sifat gotong-royong masih terasa, dan yang paling menyentuh dihati dan pikiran, lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dan salawat yang selalu bergema dari seluruh mesjid yang ada di Aceh. Setiap harinya, tidak hanya ketika menjelang hari besar saja, menjelang waktu salat, aku bisa mendengarkannya, tapi disini (Bogor), lantunan ayat suci tersebut jarang saya dengar, hanya sesekali saja, apabila hari Jumat, atau hari-hari besar lainnya.

Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman, masjid agung yang penuh dengan keindahan. Tidak hanya indah, bagi saya masjid ini menjadi tempat pelarian dan curhat dikala saya sedih🙂. Rumah ALLAH, disini lah tempat ku bercinta dan mengadu pada Rab dikala aku dirundung masalah dan kesedihan. Aura yang berbeda terasa bila saya berada di dalamnya, begitu sejuk, damai, walaupun matahari begitu menyengat di luar sana. Aku bebas menangis, mencurahkan isi hati, tidak ada yang larang. Tidak peduli apa yang sedang terjadi disekelilingku, yang ada hanya aku dan TUHAN ku. Keluarga sudah tau, jika aku disini, tidak ada seorangpun yang bisa menyuruh saya untuk pulang cepat. Saya bisa menghabiskan waktu seharian disini, mengisinya dengan salat Dhuha, salat-salat sunah, salat wajib, membaca Yasin (bahkan pernah sampai 10 kali diulang :)), mengadu pada Rab , seraya berdoa mengharapkan Ridho-NYA, memohon apa yang kupinta.

Aceh, betapa aku rindu pada mu, bagai rindu seorang kekasih akan pujaan hatinya.Hehehe. Tapi itulah yang saya rasakan sekarang. Aceh kaya, bukan hanya kaya akan keindahan alam dan SDA nya, tapi juga kaya akan generasi penerus yang ISLAMI. Berilmu juga Berimtaq. Jelas saja, karena sedari kecil, kami tidak hanya dinafkahkan ilmu pengetahuan, kami juga diikutkan pengajian oleh orang tua. Hali ini seperti keharusan bahkan wajib hukumnya bagi anak-anak Aceh. Sebut saja TPA (Taman Pendidikan Al-Quran), disini lah kami menuntut ilmu agama. Jadi tidak heran bila putra-putri Aceh pandai mengaji, karena sedari kecil, bahkan sebelum TK  (5 tahun), anak-anak disana sudah pintar mengaji. Bahkan ada salah seorang santri sayadulu, yang baru menginjak usia 6 tahun, sudah bisa membaca Al-Quran, bahkan hafalan surah dan doa-doa seharinya saja, sudah bisa lebih dari saya. hehehe. Jadi malu saya🙂. Inilah kami, generasi Aceh, yang sedari kecil sudah dibina untuk mencintai Al-Quran bahkan terkenal dengan suara indahnya ketika melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran (bukan membanggakan diri, tapi ini fakta, kata teman-teman suara saya indah ketika sedang mengaji, seperti sedang mendengarkan muratal di radio,hehehe :)).

Begitu banyak yang telah diberikan Aceh untuk saya pribadi, begitu besar amanah dan kepercayaan. Tidak akan saya sia-siakan, Untuk aceh saya akan menyelesaikan amanah ini dan kembali untuk mengabdi, membangun kembali Aceh tercinta😛

Categories: Lintas Cakrawala | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “Aceh Ku Sayang, Aceh Ku Rindu

  1. your good

  2. saya ingin melihat foto2 kota kota Aceh Sekarang ditahun 2011 setelah Tsunami terjadi..Pengenn sekali…semoga dapat lebih baik lagi aceh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: