Manisnya Bisnis Tembakau di Indonesia, Tersandung Masalah Kesehatan


Evi saptriyawati

 

photo | GeoChemBio.com

Berbicara tentang tembakau erat kaitannya dengan rokok. Tanaman yang berasal dari Amerika Utara dan Amerika selatan ini cukup berkembang di Indonesia. Di Indonesia, tembakau sudah dibudidayakan sejak zaman kolonial dan tersebar di 14 Provinsi dengan total lahan seluas 169.498 hektare. Dari total lahan ini, Indonesia memproduksi bermacam jenis tembakau, diantaranya tembakau Virginia, tembakau deli, tembakau barley, dan tembakau mole.

Tembakau Virginia memiliki cita rasa yang khas dan merupakan bahan baku rokok kretek dan rokok putih. Sayangnya sejak 1996, bibit tembakau tersebut masih didatangkan dari Brazil dan Amerika Serikat. Jenis tembakau ini dikembangkan di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan potensi tanam mencapai 58,516 ha. Lainnya hal nya dengan tembakau deli yang dibudidayakan di Sumatera Utara (Sumut) serta tembakau barley yang berasal dari Garut, Jawa Barat (Jabar). Kedua jenis tembakau ini ditanam menggunakan bibit lokal. Di pasaran tembakau Barley dihargai Rp 21.000/kg, sedangkan tembakau Deli bisa mencapai 89.000 euro/kg atau setara Rp 1 juta.

Pemda Jabar menargetkan mampu menghasilkan tembakau Barley untuk ekspor sebanyak 2.000 ton pada 5 tahun ke depan. Sehingga tidak tanggung-tanggung, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar membangun pusat penelitian dan pengembangan tembakau Barley di kabupaten Garut pada 2009. Karena untuk menghasilkan tembakau Barley kulaitas ekspor perlu melalui transfer teknologi dan pengawasan pemeliharaan tanaman.

Kenikmatan bisnis tembakau juga diakui Singgih Widodo Tantiono, Direktur Utama CU Trisno Adi menurutnya, potensi pengembangan tembakau Barley di Jabar sangat besar. Hal tersebut ditunjang oleh kondisi geografis Jabar yang sangat mendukung serta peran Pemprov dan asosiasi petani yang bagus. Karena itu ia yakin, bila dijalankan dengan mekanisme yang tepat, tembakau Barley Jabar berpotensi besar di pasar Internasional. CV Trisno Adi merupakan pemasok kebutuhan sejumlah perusahaan rokok dunia, seperti Philip Moris dan British American Tobacco (BAT). Tingginya target produksi ditunjang permintaan yang juga tinggi. Ketika harga komoditas tinggi, Indonesia juga ikut diuntungkan. Apalagi salah satu penopang ekspor nonmigas dan gas (migas) adalah tembakau.

photo | matanews.com

Memang bisnis yang cukup menjanjikan. Namun bila dilihat dari segi kesehatan, bisnis kretek ini perlu dihentikan. Padahal kontribusi yang diberikan dengan adanya produksi kretek ini cukuplah besar. Dari segi ekonomi, nilai jual tembakau bisa mencapai Rp 31,5 triliyun, tembakau berkontribusi sekitar 7% terhadap penerimaan Negara dari dalam negeri. Dari sisi tenaga kerja, jumlah tenaga kerj aynag diserap industri lebih kurang 18 juta orang. Sebanyak 10 juta Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang industry, sisanya 8 juta pekerja di bidang pertanian. Optimism makin besar dengan didukungnya fakta di lapangan yang memperlihatkan bahwa konsumsi rokok per kapita cenderung naik seiring dengan kenaikan pendapatan perkapita.

Namun, tembakau ini dikecam penggiat kesehatan dunia. Ini terkait dengan penolakan terhadap rokok yang dilakukan komunitas dan lembaga. Ditambah lagi, menurut laporan World Health Organization (WHO) pada 2008, hampir 2/3 perokok ada di 10 negara. Dan Indonesia menduduki peringkat ke-3 pengguna rokok terbesar setelah RRC dan India.

photo | kabarbisnis.com

Prevalensi perokok dengan rentang usia 15 tahun ke atas adalah 34,4% atau lebih dari 50 juta orang dewasa. Hal ini merupakan dorongan kuat bagi Presiden dan DPR agar segera meratifikasi konvensi pengendalian tembakau dan menyusun Undang-Undang (UU) Pengendalian Dampak Tembakau guna melindungi masyarakat, khususnya kaum muda, dari dampak buruk tembakau. Data pada tahun 2005 menunjukkan bahwa, biaya kesehatan yang dikeluarkan masyarakat Indonesia Karena penyakit terkait dengan rokok (tembakau) mencapai US $ 18,1 miliar atau  5,1 kali lipat pendapatan Negara dari cukai tembakau pada tahun yang sama. Maka, kedepan sektor tembakau, khususnya industri rokok, perlu mempertimbangkan keseimbangan anatara aspek ekonomi dan aspek kesehatan.

Categories: Kesehatan, Lintas Cakrawala | Tags: , , , , | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Manisnya Bisnis Tembakau di Indonesia, Tersandung Masalah Kesehatan

  1. padahal pendapat terbesar dari tembakau ya?

    • memang iya, tp sebenarnya secara tidak kita sadari, tanaman nilam lah sumber devisa terbesar bagi negara kita. terutama nilam ACEH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: