Singgah Sana Kesultanan Banjar


Evi saptriyawati 2010

Kesultanan Banjar

photo wikipedia.org

Kesultanan Banjar yang berdiri pada tahun 1520 merupakan penerus dari kerajaan Daha, sebuah kerajaan Hindu yang beribu Kota di Kota Negara, yang sekarang menjadi ibu kota kecamatan Daha Selatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan selatan.

Raja pertama Kesultanan Banjar adalah Sultan Suriansyah yang memeluk islam pada tahun 1526. Ia meninggal pada tahun 1546 dan dimakamkan di Kompleks Makam Sultan Suriansyah, Banjarmasin. Setelah wafat sang sultan mendapat gelar Sunan Batu Habang. Dalam agama Hindu, Sultan dianggap hidup menjadi Begawan di alam gaib sebagai sangiang. Gelarnya adalah Perbata Batu Habang.

Akibat konflik, kesultanan ini berpindah-pindah hingga akhirnya beribukota di Martapura, Kabupaten Banjar. Masa kejayaan kesultanan Banjar terjadi pada abad ke-17, dengan lada sebagai komoditas dagang. Daerah-daerah di Barat daya, Tenggara, dan Timur pulau Kalimantan takluk dan membayar upeti kepada Kerajaan Banjarmasin, nama lain Kesultanan Banjar, sebelumnya mereka membayar upeti pada Kesultana Demak. Namun pada masa Kesultanan Pajang-penerus Kesultanan demak, Kesultanan Banjar tidak mengirim lagi upeti ke Jawa.

Pada tahun 1615, supremasi Jawa terhadap Banjarmasin dicoba untuk dirintis lagi oleh Kerajaan Tuban. Untuk menaklukkan Banjarmasin, bala bantuan dari Madura atau Arosbaya dan Surabaya dikerahkan. Upaya itu gagal karena mendapat perlawanan sengit dari rakyat di Pulau Borneo ini. Lolos dari rongrongan para menak Jawa, Kesultanan Banjar mampu memperluas kekuasaan. Sayap kerajaan ini mampu terkepak ke Sambas, Lawai, Sukadana, Kotawaringin, Pembuang, Sampit, Mendawai, Kahayan Hilir, dan Kahayan Hulu, Kutai, Pasir, Pulau laut, Satui, Asam-asam, Kintap, dan Swarangan. Penguasa kecil di sejumlah daerah itu menjadi daerah taklukan pada 1636.

Akan tetapi Belanda datang dan memporak-porandakan kekuasaan Banjar. Pada 11 Juni 1860, Kesultanan Banjar dihapus oleh pemerintah Belanda. Penjajah menggantinya dengan penguasa boneka. Di Martapura, ditunjuk pangeran Jaya Pemenang dan di Amuntai kekuasaan diserahkan kepada Raden Adipati Danu Raja. Pemberontakan yang menyulut terjadinya Perang Banjar membuat Belanda membubarkan kerajaan boneka ini. Pada 1905, kekuasaan di daerah taklukan dihapuskan. Sejak saat itu, Kerajaan banjar hilang. Tidak ada raja, istana, juga tahta.


Penobatan Khairul Saleh Sejarah Awal “Keraton Baru” Banjar

Setelah Raja terakhir yang berkuasa, Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari pada 1862-1905, pada 12 Desember 2010

photo kerajaanbanjar.com

Khairul Saleh dinobatkan sebagai raja ke-23 dalam sejarah Kesultanan Banjar.. Sejak saat itu, tidak ada lagi raja yang berkuasa. Bangunan kerajaan yang dulu ada hancur dimakan usia. Sebagian lainnya dibakar Belanda pada era penjajahan.

Atas nama pelestarian budaya, Pemerintah Kabupaten Banjar melalui lembaga Adat dan Kekerabatan kesultanan Banjar, berencana membangun kembali Keraton Banjar. Rencananya lokasi keraton yang baru ini berada di Desa Telok Selong, Banjar. Di Desa ini masih ada peninggalan Kerajaan yang tersisa. Wujudnya adalah bangunan rumah Banjar yang menjadi museum serta objek wisata budaya daerah.

Untuk rencana ini, Pemerintah Kota telah menyiapkan lokasi pembangunan keraton seluas dua hektare. Dengan b iaya pembangunan Rp. 8,5 miliar. Penobatan yang digelar berawal dari rencana besar untuk membangun kembali sejarah Kesultanan Banjar.

Categories: Sejarah | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: