Posts Tagged With: pengolahan lahan

Kegiatan Konservasi


Evi saptriyawati 2010

Kerusakan bahkan kepunahan sumber daya alam hayati, merupakan hal yang secara umum sangat serius dalam kaitannya dengan kehilangan sumber plasma nutfah baik flora maupun fauna yang sulit untuk dipulihkan kembali. Konservasi adalah manifestasi tanggung jawab sosial tentang kewajiban terhadap generasi-generasi mendatang. Namun pendekatannya berbeda-beda, tergantung dari pandangan ekonomi dan ekologi.

Konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi, konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, perlu dilakukan strategi dalam pelaksananya. Di Indonesia, kegiatan konservasi seharusnya dilaksanakan secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat, mencakup masyarakat umum, swasta, lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, serta pihak-pihak lainnya.

Plasma nutfah di kebun percobaan Cicurug (Lampiran 2) sangat beragam, terutama plasma nutfah tanaman obat. Semua plasma nutfah ini diperoleh dari berbagai daerah di Indonesia dan negara lain seperti Cina. Plasma nutfah yang ada berasal dari suatu aksesi yang telah mengalami pemuliaan menjadi suatu varietas unggul. Beberapa tanaman tersebut antara lain kunyit, kencur, temulawak, artemesia, jahe, temu mangga, kencur, jati belanda, sirih merah, sirih hitam, belimbing wuluh, purwoceng, pala, dan beberapa tanaman obat lainnya. Pada umumnya tanaman obat Indonesia sangat mudah dibudidayakan dan prosedurnya sesuai kebutuhan standar tanaman. Oleh karenanya, kegiatan menangani atau mengelola tanaman obat tidak jauh berbeda dengan tanaman budidaya lainnya.

Konsep konservasi yang diterapkan di Kebun Percobaan Cicurug adalah perlindungan terhadap plasma nutfah tanaman obat dan aromatik, pengawetan keanekaragaman plasma nutfah secara in-situ, dan pemanfaatan secara lestari. Pemanfaatannya berupa pemanfaatan kawasan pelestarian alam dan pemanfaatan jenis tumbuhan dalam bentuk penelitian, pengembangan, perdagangan, dan budidaya.

Kegiatan konservasi plasma nutfah tanaman obat yang dilakukan di kebun percobaan Cicurug terdiri dari tiga tahap yaitu pra panen, panen dan pasca panen.

1. Pra panen

Kegiatan pra panen merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum penanaman yang terdiri dari dari 10 tahapan, yaitu:

a. Pengolahan tanah

 

kebun tanam

tanah yang telah diolah menjadi bedengan tanam

Tujuan pengolahan lahan untuk menjadikan kondisi tanah semakin gembur juga bertujuan untuk membasmi hama dan penyakit yang berada di dalam tanah, memperbaiki ruang pori (udara) tanah, serta menghambat pertumbuhan gulma (Mahendra 2005). Pengolahan tanah dilakukan dengan membalikkan lapisan olah tanah bagian atas dan bawah dengan bajak atau cangkul sehingga menjadi sebuah bedengan atau petakan tanah.

Sebelum membuat bedengan, lahan yang akan digunakan untuk penanaman terlebih dahulu diukur sesuai dengan standar ukuran dan perlakuan yang telah ditetapkan untuk penanaman. Kegiatan ini disebut dengan mengajir lahan.

Langkah pertama adalah membuat As atau induk utama pengukuran dengan menancapkan potongan kayu atau bambu, lalu menarik tali sepanjang lahan yang akan digunakan dan disejajarkan dengan As. Sudut yang terbentuk antara tali untuk mengukur panjang dan lebar, diukur menggunakan rumus trigonometri yaitu r2=x2+y2 untuk mendapatkan sudut 900. namun apabila di lapangan dalam keadaan terdesak dapat digunakan benda apapun yang memiliki sudut 900 seperti dompet dan kegiatan ngajir ini dilakukan oleh tiga orang. Setelah sudut 900 atau siku-siku ini terbentuk, diberi potongan bambu untuk mengunci patokan tersebut agar tidak bergeser atau berubah ukurannya.

Langkah kedua, mengukur panjang dan lebar bedengan yang akan dibuat dan diberi patokan berupa potongan bambu pada ukuran panjang dan lebar tersebut. Setelah bedengan terbentuk diukur jarak tanam dan diberi patokan sesuai dengan jarak dan ukuran pada SOP (Standar Operasional Penanaman) lalu dicangkul untuk mendapatkan lubang tanam. Jarak tanam dan ukuran lubang tanam berbeda antara tiap jenis tanaman sesuai dengan standar operasional penanamannya.

Hal yang harus diperhatikan dalam pengolahan tanah atau lahan, selain ukuran bedengan dan jarak tanam antara lain, kemiringan bedengan, jarak antar bedengan, tanah yang digunakan (liat, gembur, atau berpasir), kedalaman lubang tanam juga perlu diperhatikan agar tidak terlalu dangkal, dan kondisi fisiologis tanah seperti tingkat pH atau keasamannya. Apabila keasaman tanah rendah dapat diberikan kapur dolomit dengan dosis yang sesuai.

Pada tanaman jahe, sebulan sebelum penanaman dimasukkan jerami secukupnya kedalam lubang tanam. Bagian atas lubang tanam diberi 1-2 kg pupuk kandang matang, lalu lubang dibiarkan terbuka sampai saat penanaman agar sirkulasi pada lubang tanam menjadi baik dan pupuk kandang menjadi lebih matang (Mahendra 2005). Pada perkebunan Cicurug media tanam yang digunakan adalah lahan tanam yang diolah terlebih dahulu menjadi petakan tanam…[laporan kegiatan Praktek lapang]

Full Text e-mail: saptriyawati.evi@gmail.com

Categories: My Scientific research | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: